Iseng-iseng, xixixixixixi…
Analisis Final Leg I Piala AFF
Hmmm.. tim garuda ternyata kalah telak 3-0 di bukit jalil mas bro pada leg I final piala AFF 2010, apa yang terjadi dengan timnas??? berikut analisa pertandingan dari sudut pandang saya sebagai seorang programer, biker, adventurer pecinta sepak bola.
Dari dulu pemain indonesia sudah dibekali dengan teknik yang memadai, tidak kurang dari roni pattinasari, sucipto, suntoro, anjas asmara, robby darwis sampai widodo c putra dikenal sebagai pemain berteknik tinggi. akan tetapi, permasalah mengakar dari persepakbolaan kita adalah disiplin, fisik dan mental. entah apa dari dulu kebiasaan makan tempe sehingga fisik dan mentalnya pun kayak tempe, alias mlempem
. nah, di era alfred riedl ini, beliau telah melakukan berbagai macam cara untuk mengatasi masalah tersebut. untuk fisik, timnas sudah mengaplikasikan science, dimana asupan gizi pemaen telah dihitung baik2. sebagai contoh pengaplikasian science ini dibuktikan dengan penolakan secara tegas alfred riedl terhadap undangan makan salah satu menteri! waw, menteri dilawan jg ama pelatih hebat satu ini. beliau beralasan, acara makan malam ini bakal mempengaruhi pola makan pemaen timnas, mengingat, untuk menghadiri acara itu tidak dibutuhkan waktu sejam dua jam saja, pasti bakal memakan banyak waktu termasuk persiapan dandan
, dan lainnya yang akan mengganggu persiapan timnas.
sedangkan untuk masalah disiplin, beliau menerapkan peraturan menarik. beliau telah menentukan jadwal pemain secara ketat. pemaen harus mematuhi dan mengikuti jadwal itu. sebagai contoh, makan pagi jam 7, semua pemaen harus sudah ada di ruang makan, apabila terlambat, mereka harus membayar denda/sejumlah uang yang nantinya akan masuk kantong nurdin halid disumbangkan untuk kepentingan sosial! menakjubkan bukan?
nah, untuk masalah terakhir merupakan masalah yang cukup pelik. seorang alex ferguson pun tidak akan mampu mengubah mental pemaen dalam hitungan bulan! karena, mental pemaen harus dibentuk sejak dini. sejak dalam tahap infant, mereka telah didik mental untuk selalu mempunyai jiwa pemenang, pantang menyerah dll. nah ini dia yang menurut saya masih kurang pada pemaen kita. pemaen kita masih suka dibuai dengan kesuksesan instant. lihat saja, pada ummur 17 taun, seorang boaz salossa telah menjadi superstar di indonesia. tp pada umur 19, karirnya bak tenggelam ditelan bumi, kenapa? karena dia mulai mengenal kehidupan malam dan suka menenggak miras. akhirnya pun sampe sekarang, disiplinnya susah ditempa, dan tidak dipanggil timnas lagi meski skillnya masih terasah baik.

Facebook
Twitter
LinkedIn